oalib

Publish in OALib Journal

ISSN: 2333-9721

APC: Only $99

Submit

Any time

2020 ( 8 )

2019 ( 106 )

2018 ( 177 )

2017 ( 160 )

Custom range...

Search Results: 1 - 10 of 93627 matches for " W. Patrick Carney "
All listed articles are free for downloading (OA Articles)
Page 1 /93627
Display every page Item
PRECONTROL INVESTIGATION OF SCHISTOSOMIASIS IN CENTRAL SULAWESI
Mohammad Sudomo,W. Patrick Carney
Bulletin of Health Research , 2012,
Abstract: Pertama kali Oriental Schistosomiasis dilaporkan terdapat di Lembah Lindu, Sulawesi Tengah adalah pada tahun 1937. Studi tentang epidemiologi penyakit tsb. sampai perang dunia ke II menemukai bahwa selain orang, juga rusa dan anjing bertindak sebagai tuan rumah. Tetapi pada saat itu tuan rumah perantara belum diketemukan. Pada tahun 1971, lebih dari tiga puluh tahun sesudah penemuan Schistosoma japonicum di Lembah Lindu, penyelidikan tentang schistosomiasis di Sulawesi Tengah, dimulai kembali. Tuan rumah perantara dari penyakit tsb. pada saat ini diketemukan dan setelah diselidiki ternyata merupakan sub-species baru dari Oncomelania, yang disebut Oncomelania hupensi lindoensis. Sesudah penelitian tentang penyakit tsb. dan dengan diketemukannya tuan rumah perantarc nya, penelitian yang lebih mendalam tentang penyebaran schistosomiasis di Lembah Lindu dimulai untuk memungkinkan membuat rencana pemberantasan dikemudian hari. Karena schistosomiasi merupakan penyakit yang sangat komplex, dalam arti menyangkut penyebabnya, tuan rumah perantar dan banyaknya hewan2 mammalia yang dapat bertindak sebagai tuan rumah tetap, maka penyelidikan tentang ekologi penyakit tsb. perlu dilakukan. Didalam paper ini akan terlihat garisi besar dan penelitian yang sedang dilakukan di Sulawesi Tengah sebelum dilakukannya pemberantasan, antari lain Geographic distribution di Sulawesi, Mammalian host range, Prevalence rates and Intensif of infection in various mammalian host. Relative importance of mammalian reservoirs, Incidenc in humans and rats, Distribution of molluscan host, Prevalence rates in the molluscan host. Populatio densities of molluscan host, Foci of transmission, Daily and Seasonal periodicity of cercarial release and Socio-economic factors affecting transmission.
20 YEARS OF PROGRESS IN SCHISTOSOMIASIS RESEARCH
M. Sudomo,W. Patrick Carney,Liliana Kurniawan
Bulletin of Health Research , 2012,
Abstract: Preliminary studies of schistosomiasis in Indonesia were made in the late 1930's and the early 1940's. The first human case of S. japonicum was discovered by Muller and Tesch from the Lindu valley of Central Sulawesi (Celebes). Early epidemiological studies prior to World War II demonstrated that, in addition to man, wild deer and domestic dogs served as reservoir hosts, "and subsequent microscopic examination of adult worms from these mammals confirmed them to be S. japonicum. Although extensive snail surveys were conducted at that time, the molluscan host was not found. The schistosomiasis problem in Lindu Valley virtually remained dormant until the 1970's. In the 1970's there was a resurgence of interest in the epidemiology of schistosomiasis in Indonesia. A new schistosomiasis area in the Napu valley was discovered. During this period, the intermediate host, Oncomelania hupensis was found in the Lake Lindu valley. This confirmed that the uisease situation in Indonesia was, in fact, a form of classical oriental schistosomiasis similar in its biology and transmission to that found in the Philippines, Japan, and China. The molluscan host of S. japonicum in the Lake Lindu Valley was subsequently described as a new species, O. h. iindoensis, and is most similar to O. h. quadrasi, the vector host in the Philippines. The disease occurs now only in two very isolated areas, the Lake Lindu valley and Napu valley in Central Sulawesi.
INTESTINAL PARASITES AND MALARIA IN MUSI BANYU ASIN AND OGAN KOMERING ULU REGENCIES, SOUTH SUMATRA
W. Patrick Carney,Soeroto Atmosoedjono,Hadi Sajidiman,Arbain Joesoef
Bulletin of Health Research , 2012,
Abstract: Pada bulan Mei 1973 diadakan survey tinja dan darah di lima desa di Sumatra Selatan untuk mengetahui aspek-aspek penyakit parasit pada penduduk asli dan para transmigran yang datang antara tahun 1935 dan 1955. Desa-desa Tanjung Kerang, Simpang Langkap dan Biuku di Kabupaten Musi Banyu Asin yang terletak di sebelah barat laut kota Palembang merupakan daerah hutan-ladang-huma dan perkebunan karet rakyat dikelilingi oleh rawa-rawa, yang di diami oleh penduduk asli. Desa-desa Sidomulyo dan Tanjung Raya di Kabupaten Ogan Komering Ulu, terletak di sebelah tenggara' kota Palembang, adalah tempat transmigrasi yang merupakan daerah persawahan." Dari 358 orang yang diperiksa tinjanya yang terdiri dari 193 laki-laki dan 165 wanita, di keiemukan 97 per cent terinfeksi oleh sedikitnya satu macam parasit, 87 per cent oleh 2 macam parasit atau lebih dan 55 per cent oleh 3 macam parasit atau lebih. Telur-telur cacing yang di temukan antara lain ialah: Trichuris trichiura. (83 per cent), Ascaris lumbricoides (78 per cent) dan cacing tambang (59 per cent). Enterobius vermicularis (1 per cent) dan Strongyloides stercoralis (0,3 per cent) jarang di jumpai. Entamoeba coli (29 per cent) merupakan parasit protozoa yang biasa di temukan. Jumlah rata-rata protozoa yang ada dalam usus ialah: Entamoeba histofytica (4 per cent), Entamoeba hartmanni (1 per cent), Endolimax nona (5 per cent), Iodamoeba butschlii (5 per cent), Giardia lamblia (3 per cent) dan Chilomastbc mesnili (4 per cent). Distribusi dari parasit usus hampir sama di antara golongan laki-laki dan wanita; meskipun tanah memegang peranan yang sama dalam pemindahan cacing-cacing, tetapi A. lumbricoides dan T. trichiura lebih banyak di jumpai pada wanita, sedangkan cacing tambang lebih banyak pada laki-laki. Prevalensi parasit usus menurut golongan umur adalah sebagai berikut: A. lumbricoides lebih banyak pada golongan muda, T. trichiura merata pada semua golongan umur, tetapi yang terbanyak pada golongan umur antara 30-39 tahun. Infeksi cacing tambang terdapat tinggi, antara 50 sampai 60 per cent, sampai umur 50 tahun. Pada orang-orang yang berumur lebih dari 50 tahun, infeksi cacing tambang ini sangat menyolok meningkatnya sampai 92 per cent. Adanya perbedaan infeksi dari protozoa usus menurut golongan umur tidak dapat di buktikan. Pemeriksaan 472 sediaan darah yang berasal dari 5 desa tersebut diatas menemukan Plasmodium vivax dan Plasmodium falciparum pada 8 orang. Lima di antaranya adalah anak-anak yang berumur di bawah 10 tahun. Infeksi pada golongan laki-laki dan wanita tampak sama rata
INTESTINAL PARASITES AND MALARIA IN SUKOMENANTI PASAMAN REGENCY, WEST SUMATRA
W. Patrick Carney,Soeroto Atmosoedjono,Hadi Sajidiman,Arbain Joesoef
Bulletin of Health Research , 2012,
Abstract: Survey parasit darah dan usus telah diselenggarakan di Kecamatan Sukomenanti, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Bahan pemeriksaan berasal dari 168 penduduk lakidaki dan 196 wanita umur antara 2-87 tahun. Di Sumatra Barat cacing yang umumnya terdapat ialah pertama Ascaris lumbricoides, kedua cacing tambang dan ketiga Trichuris trichiura. Survey didaerah Boyolali dan Kresek, Jawa, menemukan lebih banyak T. trichiura daripada cacing tambang. Di daerah Yogyakarta T. trichiura menduduki tempat yang pertama. Angka infeksi yang rendah untuk desa Pasir Tampang (11 percent) dan Tongar (3 percent) adalah tidak umum untuk Indonesia, tetapi keadaan demikian juga dilaporkan di lembah Lindu dan Napu, Sulawesi Tengah. Enterobius vermicularis terdapat hanya pada 2 per cent diantara penduduk yang diperiksa, sesuai dengan keadaan di daerah2 lain di Indonesia. Species dari cacing tambang pada survey ini belum dapat ditentukan. Infeksi Ascaris lumbricoides terdapat lebih banyak pada penduduk golongan muda, sesuai dengan hasil autopsi oleh Liedan Tan di Jakarta. Di Jawa Tengah dan Jawa Barat infeksi A. lumbricoides tampak merata pada semua umur. Entamoeba coli selalu terdapat pada survey di desa2 di pulau Jawa. Tetapi, infeksi E. histolytica (24 percent) adalah berlainan dengan keadaan di Kresek, Boyolali dan Yogyakarta yang menunjukkan ■ infeksi 12 per cent atau kurang. Infeksi malaria di Sukomenanti adalah sangat rendah sebagaimana terdapat di Kresek dan Yogya-karta. Keadaan demikian sangat berlainan dengan daerah Margolimbo di Sulawesi Selatan dimana angka dnfeksi malarianya tinggi.
INTESTINAL PARASITES IN SEMBALUN LAWANG, LOMBOK
Arbain Joesoef,W. Patrick Carney,Agustinus Agustinus,Juslis Katin
Bulletin of Health Research , 2012,
Abstract: Survey tinja telah dilakukan diantara penduduk di Kampung Sembalun Lawang, Distrik Aikinal, Lombok Timur, pada bulan Agustus 1973 untuk mengetahui angka parasit usus dan demam keong di daerah tersebut. Dari 146 penduduk yang diperiksa tinjanya ditemukan 99 persen mengandung sekurang-kurangnya satu jenis parasit usus, 85 persen dengan dua jenis atau lebih dan 40 persen dengan tiga jenis atau lebih. Tidak ditemukan bibit penyakit demam keong diantara penduduk didaerah ini. Angka infeksi dari parasit usus tersebut masing-masing adalah Ascaris lumbricoides 96 persen, Trichuris trichiura 84 persen, cacing tambang 25 persen, Entamocba coli 18 persen, Enterobius vermicularis 10 persen, lodamoeba butsehlii 3 persen, Entamoeba histolytica 1 persen dan Giardia lamblia 1 persen. Pada umumnya tidak banyak perbedaan angka infeksi dari parasit usus ini diantara golongan umur dan kelamin kecuali untuk cacing tambang dimana infeksi pada golongan laki-laki lebih banyak dari pada golongan perempuan.
INTESTINAL AND BLOOD PARASITES OF MAN IN TIMOR
W. Patrick Carney,Arbain Joesoef,Virgil Rogers,N. Tibuludji
Bulletin of Health Research , 2012,
Abstract: Survey tinja dan darah dipulau Timor guna menentukan distribusi dan prevalensi penyakit parasit diantara penduduk telah dilakukan pada bulan Juli dan Agustus tahun 1972 sebagai kelanjutan dari deretan survey yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pencegahan Pemberantasan Penyakit menular Departemen Kesehatan, Bagian Parasitologi dan Pathologi Umum Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan US Namru-2 di Indonesia. Sejumlah 445 sediaan tinja untuk pemeriksaan parasit usus, 581 sediaan darah untuk pemeriksaan parasit malaria dan 663 sediaan darah untuk pemeriksaan parasit filaria telah diambil dari penduduk cara merata di 7 desa pada 3 kabupaten di Timor, Nusa Tenggara Timur. Enam puluh delapan per cent diantara penduduk melihatkan satu atau lebih parasit usus didalam tinjanya dimana cacing tambang merupakan parasit usus yang terbanyak. Ascaris lumbricoides ketemukan jauh lebih kurang daripada di Jawa, Sumatra dan Sulawesi, juga diketemukan perbedaan itara "intestinal parasite rate" di Timor Indonesia dan Timor Portugis. Dua belas percent penduduk yang diperiksa melihatkan parasit malaria didalam darahnya sedangkan parasit filaria ditemukan sebanyak 8 percent. Plasmodium falciparum merupakan parasit malaria yang terbanyak ditemukan, ia jenis parasit fdaria yang ditemukan adalah "Timor microfilaria" dan Wuchereria bancrofti dimana yang pertama merupakan parasit yang terbanyak diantara penduduk yang diperiksa.
“The Precession of Simulacra” by Jean Baudrillard, Translated from English into American
Sean Joseph Patrick Carney
continent. , 2012,
Abstract: Founder and director of Social Malpractice Publishing, Carney’s art practice includes stand-up comedy, performance, sound, critical writing, satire, and public happenings. Simultaneously ridiculous and useful, the artist seeks the charm that used to exist between a noun and a representation of the noun.
CURRENT TECHNOLOGICAL APPROACHES TO THE STUDY OF TREMATODES
W. P. Carney
Bulletin of Health Research , 2012,
Abstract: Advances in biology sciences over the past decade have provided additional technology for dealing with trematode parasitoses. Although trematode diseases of man and animals in Indonesia are essentially the same as they were ten years ago, scientific methods available to deal with them have improved significantly. One can now exploit the innate ability of cells to replicate and produce biological products upon demand, manipulate the genetic make up of an organism, biologically or synthetically manufacture peptides and rationally develop drugs that target idiosyncrasies of parasites at the cellular and molecular levels. Further, one can now manage and analyze massive amounts of biological data using desk top computers. These new biological techniques and the computing ability to interpret the data generated provide parasitologists in Indonesia and elsewhere with the ability to document the economic and public health impact of trematode parasitoses and to develop new strategies and reagents for diagnosing, treating, preventing and controlling the diseases they cause. In addition, biotechnology offers university scientists and their students with additional opportunities to investigate basic and esoteric aspects of host-parasite interrelationship that are such an intriguing aspect of biology.
OPPORTUNITIES IN THE UNITED STATES FOR TRAINING IN BIOTECHNOLOGY FOR PARASITIC DISEASE INVESTIGATIONS
W. P. Carney
Bulletin of Health Research , 2012,
Abstract: In the United States there are academic, governmental and industrial training opportunities in biotechnology that are applicable to the study of parasitic disease. Academic opportunities are the most plentiful. At least 130 universities in the Unites States have training programs in which current biotechnologies are being used to investigate parasites of economic or public health importance. Further, there are at least 70 centers of biotechnology in the United States. In these centers, many of which are located on university campuses, new biological techniques are being applied to both basic and applied research projects. The Unites States government administers more than 20 research programs that utilize current biotechnology to conduct parasitic disease research programs. These programs are conducted in or supported with resources of the following agencies: the Departments of Agriculture, Health and Human Services, Defense, and Interior, the Agency for International Development, the National Science Foun-dation, the National Academy of Sciences, and the Environmental Protection Agency. Commercial firms using biotechnological methods for production of biologicals and other reagents, provide an opportunity for on-the-job training and experience in the application of these new technologies to parasites diseases of major economic or public health importance.
Infrared Photometry of the Globular Cluster Palomar 6
Jae-Woo Lee,Bruce W. Carney
Physics , 2002, DOI: 10.1086/340464
Abstract: We present JHK photometry of Palomar 6. Our photometric measurements range from the RGB-tip to 2 mag below the RHB and our CMDs show that Palomar~6 appears to have a well-defined RHB population. The distance modulus and interstellar reddening of the cluster are estimated by comparing the magnitude and color of Palomar 6 RHB stars with respect to those of 47 Tuc. We obtain (m-M)_0 = 14.28 mag and E(B-V) = 1.30 mag for the cluster and our study suggests that Palomar~6 is clearly located in the Galaxy's central regions. We also discuss the metallicity of the cluster using the slope of the RGB. We obtain [Fe/H] = -1.2 for Palomar~6 and our metallicity estimate is 0.5 - 1.0 dex lower than previous estimates by others.
Page 1 /93627
Display every page Item


Home
Copyright © 2008-2017 Open Access Library. All rights reserved.