oalib

Publish in OALib Journal

ISSN: 2333-9721

APC: Only $99

Submit

Any time

2020 ( 83 )

2019 ( 461 )

2018 ( 519 )

2017 ( 535 )

Custom range...

Search Results: 1 - 10 of 325421 matches for " Supratman S. "
All listed articles are free for downloading (OA Articles)
Page 1 /325421
Display every page Item
EVALUATION OF PIT SHELTERS AS A MONITORING DEVICE FOR OUTDOOR RESTING POPULATIONS OF MALARIA VECTOR ANOPHELES ACONITUS DONITZ
Barodji Barodji,Supratman S.
Bulletin of Health Research , 2012,
Abstract: Penelitian kepadatan populasi vektor malaria Anopheles aconitus Donitz yang hinggap di luar rumah pada siang hari dengan menggunakan lubang buatan telah dilakukan di Jawa Tengah. Dalam waktu yang bersamaan dilakukan pula penangkapan nyamuk yang hinggap di habitat aslinya (pada tebing sungai, di bawah batu-batuan sepanjang sungai dan pada vegetasi di sepanjang saluran pengairan) untuk perbandingan. Hasil penelitian selama lebih dari dua tahun menunjukkan bahwa rata-rata padat populasi A n. aconitus tiap bulan di lubang buatan (65,60 tiap orang per jam) hampir sama dengan yang di habitat aslinya (60,70 tiap orang per jam). Tetapi fluktuasi padat populasi tiap minggu yang dirata-ratakan tiap bulan tidak ada korelasi yang nyata di antara dua cara penilaian tersebut. Pada musim kemarau padat populasi An. aconitus di lubang buatan adalah tinggi (81,45 tiap orang per jam) dan pada musim hujan adalah rendah (49,70 tiap orang per jam), sedang di habitat aslinya menunjukkan keadaan yang berkebalikan (45,70 tiap orang per jam pada musim kemarau dan 75,70 pada musim hujan). Hal tersebut menunjukkan bahwa penangkapan nyamuk di lubang buatan tidak dapat digunakan untuk mengganti penangkapan nyamuk di habitat aslinya, karena hasilnya berlawanan.
MANFAAT PENGGUNAAN "EXIT - TRAP" DALAM PENILAIAN PADAT POPULASI VEKTOR MALARIA ANOPHELES ACONITUS DI KANDANG PADA MALAM HARI
Barodji Barodji,Sularto Sularto,Bambang Haryanto,Supratman S.
Bulletin of Health Research , 2012,
Abstract: Exit-traps were used to estimate the density of the malaria vector Anopheles aconitus in cattle shel-ters in five localities near Semarang, Central Java, from Mei 1980 to October 1981. Collections of resting mosquitoes in two cattle shelters by aspirator during the same period were used as a comparison. Results indicate that exit trap, were less productive compared to mosquito collection in cattle shelters using aspirators. However, weekly fluctuations of densities obtained from exit-traps and from cattle shelters are the same pattern and both showed a significantly positive correlations. Most of An. aconitus caught in exit traps are blood fed and very few gravid, these supports the theory that this species is highly exophilic.
Sumbangan Ilmu Genetika Populer untuk Penelitian Nyamuk sebagai Vektor Penyakit
Supratman Sukowati
Media of Health Research and Development , 2012,
Abstract: Studi genetika populasi telah banyak memberikan sumbangan .yang berarti dalam penelitian nyamuk sebagai vektor penyakit, terutama untuk menentukan adanya spesies sibling. Analisa struktur genetika populasi vektor dimungkinkan dengan menggunakan data genetika: sitogenetika dan biokimia (elektroforesis, DNA dan immunologi). ldentifikasi spesies secara benar dan pengetahuan yang rinci tentang genetika vektor merupakan awal dalam memahami ko-evolusi antara host-vektor-parasit, bioekologi dan dinamika populasi serta hubungan dengan lingkungan. Dengan pemahaman berbagai aspek spesies vektor, maka akan memberikan peluang untuk menggunakan implikasi variasi genetika dalam mengembangkan strategi pengendalian vektor secara sangkil dan mangkus. Meskipun studi tersebut bermanfaat untuk menyokong penelitian vektor, namun masih belum banyak dilakukan di Asia Tenggara termasuk Indonesia. 0leh karena itu sudah waktunya para ilmuwan yang bekerja di bidang penelitian vector penyakit untuk mulai memberikan perhatian dan menggunakan prinsip genetika populasi agar lebih mampu dalam memahami perubahan-perubahan popuasi yang dihasilkan oleh adanya faktor-faktor genetika dan lingkungan.
THE OVARIAN POLYTENE CHROMOSOME OF THE TAXON ANOPHELES (CELLIA) SUNDAICUS (RODENWALD)
Supratman Sukowati
Bulletin of Health Research , 2012,
Abstract: Penelitian khromosom politen ovarium nyamuk Anopheles sundaicus Rodenwald, 1925 telah dilakukan dari populasi alam di Pangha (Thailand Selatan), Trat (Thailand Timur) dan Pangandaran (Jawa Barat, Indonesia). Metode penelitian khromosom politen berdasarkan Green dan Hunt (1980). Pola penggelangan khromosom di dalam populasi dan antara populasi dibandingkan. Jumlah khromosom karyotipe metaphase spesies tersebut terbukti sama dengan jumlah khromosom nyamuk dari kelompok anopheline (2n=6), yang terdiri dari satu pasangan khromosom-X dan dua pasang autosom. Khromosom politen An. sundaicus ditemukan dapat berkembang dengan baik, sehingga peta photo politen ovarium dapat disajikan sebagai peta baku khromosom politen, dan digunakan sebagai bahan acuan takson ini. Pola penggelangan yang jelas dan tanda-tanda yang konsisten, merupakan ciri-ciri dari setiap lengan khromosom. Perbandingan pola khromosom politen An. sundaicus di dalam populasi dan antara populasi Pangha, Trat dan Pangandaran dengan peta baku khromosom politen belum ditemukan adanya variasi atau polimorphisme khromosom.
KOMPOSISI SPESIES DAN DOMINASI NYAMUK ANOPHELES DI DAERAH PANTAI BANYUWANGI, JAWA TIMUR
Shinta Shinta,Supratman Supratman,Mardiana Mardiana
Media of Health Research and Development , 2012,
Abstract: Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Banyuwangi. Salah satu faktor penting yang perlu dipahami adalah spesies dan populasi nyamuk vektor malaria. Penelitian fauna nyamuk Anopheles sp dilakukan di daerah pantai Banyuwangi, Jawa Timur pada bulan Mei hingga Oktober 2001. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi spesies dan dominasi nyamuk Anopheles sp yang mungkin berpotensi sebagai vektor malaria di daerah tersebut. Pengumpulan spesimen dilakukan dengan cara menangkap nyamuk pada malam hari (umpan orang di dalam dan di luar rumah serta penangkapan nyamuk yang hinggap di kandang ternak), dan penangkapan nyamuk pagi hari (penangkapan nyamuk yang hinggap beristirahat di dalam dan di luar rumah). Hasil penangkapan diperoleh 3888 ekor nyamuk Anopheles yang terdiri dari 7 spesies yaitu: An. sundaicus 2638 ekor (67,86%), An. vagus 1130 ekor (29,06%), An. subpictus 94 ekor (2,42%), An flavirostris 20 ekor (0,51%), An. barbirostris 2 ekor (0,05%), An. annularis 2 ekor (0,05%) dan An. indefinitus 2 ekor (0,05%). Nyamuk An sundaicus ditemukan dengan kepadatan populasi tinggi malam hari pada bulan Juni, Juli, Agustus dan September, sedangkan An. vagus malam hari pada bulan Juni, Juli dan Oktober. Spesies nyamuk yang ditangkap umumnya zoofilik (43,72%), tetapi cenderung menggigit manusia di dalam dan di luar rumah. Pengumpulan larva dilakukan pada habitat yang diduga sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk. Larva An. barbirostris dan An. sundaicus ditemukan di habitat lagun, kobakan dan mata air. Larva An. vagus terdapat di dua habitat (lagun dan kobakan), sedangkan larva An. subpictus ditemukan hanya pada satu habitat, yaitu mata air. Kata kunci: An. sundaicus, An. vagus, An. subpictus, lagun, kobakan, mata air, fauna, vektor.
PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU TOKOH MASYARAKAT TENTANG MALARIA DI KABUPATEN PURWOREJO, JAWA TENGAH
Shinta Shinta,Supratman Sukowati
Media of Health Research and Development , 2012,
Abstract: Malaria merupakan masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Purworejo. Pemberantasan malaria tidak mungkin dapat berhasil dengan baik tanpa adanya peran serta masyarakat dan keterlibatan mitra terkait. Untuk meningkatkan peran serta masyarakat dan menggalang kemitraan dalam pemberantasan malaria diperlukan informasi tentang pengetahuan, sikap dan perilaku (PSP) dari masyarakat maupun tokoh masyarakat di daerah sasaran. Metode penelitian dilakukan dengan wawancara mendalam menggunakan pertanyaan terbuka terhadap tokoh masyarakat formal dan informal. lnforman tokoh formal adalah Camat, Kepala Desa dan Kepala Dukuh. Informan tokoh informal adalah guru sekolah, ulama, kader PKK dan karang taruna. Tujuan penelitian untuk menemukan metode pemberantasan malaria secara tepat guna. Hasil penelitian: Pengetahuan informan tentang cukup baik, sudah mengenal tanda tanda, penyebab dan cara pengobatan. Malaria ditularkan oleh nyamuk Anopheles, ada juga yang mengatakan Aedes ataupun tidak tahu. Posisi nyamuk ketika menggigit menungging; menggigit pada malam hari, hila ada orang yang melahirkan atau ada hajatan, masih ada yang mengatakan siang hari; tempat perkembangbiakan di kubangan, kolam, tempurung kelapa, saluran air, masih ada yang mengatakan di air kotor dan bak mandi. Pengobatan dapat dilakukan dengan dua cara; pengobatan modern dengan klorokuin, pengobatan tradisional dengan daun pepaya, buah mahoni, kulit pohon kina, akar alang-alang, brotowali dan pace. Mengenai sikap informan sudah baik, dalam upaya mencari pengobatan warga akan mendatangi Puskesmas, bidan desa, juru malaria desa, dokter, membeli obat di warung atau ke dukun. Malaria mengakibatkan tidak dapat bekerja/sekolah beberapa hari, dapat menyebabkan kematian, dapat sembuh setelah makan obat dan istirahat sebentar. Perilaku informan mengenai cara menghindari gigitan, cara mengurangi resiko gigitan nyamuk sudah baik namun dalam pencegahan malaria umumnya masih rancu dengan cara pencegahan demam berdarah. Ada penyuluhan dan kunjungan petugas kesehatan namun masih sangat jarang dan masih diperlukan. Kata kunci : Malaria, PSP, tokoh formal, tokoh informal, penyuluhan, kelambu
PENGGUNAAN METODE SURVEI PUPA UNTUK MEMPREDIKSI RISIKO PENULARAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI LIMA WILAYAH ENDEMIS DI DKI JAKARTA
Shinta Shinta,Supratman Sukowati
Media of Health Research and Development , 2013,
Abstract: Abstrak Demam berdarah dengue (DBD) adalah salah satu masalah kesehatan di Indonesia. Untuk saat ini, belum ada obat atau vaksin untuk mencegah DBD. Oleh karena itu pencegahan dan pengendalian vektor menjadi sangat penting. Indikator yang digunakan untuk melakukan surveilans dalam pengawasan kepadatan populasi Ae. aegypti dan memprediksi risiko penularan adalah pupa indeks. Pupa indeks digunakan untuk mengukur HPI, CPI, pupa/orang, pupa/rumah, dan pupa/ kontainer. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui habitat reproduksi terbesar, kepadatan penduduk dan persentase pupa di lima kecamatan di DKI Jakarta yaitu Johar Baru (Jakarta Pusat), Tanjung Priok (Jakarta Utara), Kramat Jati (Jakarta Timur), Kebun Jeruk (Jakarta Barat), dan Cilandak (Jakarta Selatan). Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik stratified random sampling. Hasil penelitian menunjukkan habitat pupa Ae. Aegypti, yaitu kontainer air (bak mandi, bak WC, drum, tempayan, bak wudhu, dan bak tandu), wadah air tidak permanen (barang bekas, bekas sumur, vas/pot bunga, kolam/akuarium, tempat minum unggas, tatakan dispenser, wastafel dan bath tube), habitat alami (potongan bambu dan pelepah daun). Nilai rata-rata indeks pupa di lima wilayah penelitian adalah CPI = 8,45%; HPI = 23,98%; pupa/orang = 0,65; pupa/rumah = 3,58; dan pupa/kontainer = 0,96. Ada konsistensi nomor indeks di semua wilayah penelitian; Jika indeks HPI tinggi, indeks pupa lainnya akan tinggi juga. Kata kunci: Aedes aegypti, pupa indeks, DBD Abstract Dengue fever is one of the most concerning health problems in Indonesia. For this time, there are merely no known medicines or vaccines to prevent this disease from manifesting. Rigorous studies are still conducted intensively. Hence, vector prevention and control efforts become very important. Indicator used here to conduct surveillance, measure Ae.aegypti population density and predict transmission risk was pupa index. Pupa index was used to measure HPI, CPI, pupae/person, pupae/house, and pupa/container. This research is aimed to determine the biggest reproduction habitat, population density and pupae percentage in five sub districts in DKI Jakarta; Johar Baru (Central Jakarta), Tanjung Priok (North Jakarta), Kramat Jati (East Jakarta), Kebun Jeruk (West Jakarta), and Cilandak (South Jakarta). Method used was descriptive throught the technique was stratified random sampling technique. Result of this study showed various reproduction of Ae.aegypti pupae habitat. They were water containers (bathtub, lavatory, drums, jars, buckets, tubs ablution and bath water li
PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP MALARIA DI KOTA BATAM
Helper Sahat P Manalu,Supratman Sukowati
Media of Health Research and Development , 2012,
Abstract: Malaria remains a major public health problem and causes outbreaks and re-emerging of malaria in places which previously had been declared to be malaria free in Indonesia. Malaria is very important issue in tourist industry, socio-economic impact and poverty. There are some risk factors of malaria transmission e.g. physical environment changes including the climate change such as rainfall, temperature, land used, environment deterioration; poverty, mobility of people and economic crisis. The understanding of knowledge, attitude and practices of the community in malaria and its control are very important for its prevention and control strategy. This paper presented the study of knowledge, attitude and practices on malaria, prevention its control in year 2008 in Batam area. There were 248 respondents surveyed from three sub-district, consist of 84 respondents from Nongsa, 89 respondents from Galang sub-district and 75 respondents from Belakang Padang. Quantitative and qualitative data were collected by using structural questionnaire for the community and personal in-dept interview for the community leaders. The results of the study shows that most of the respondents understand and ever heard about malaria (91.9%); nevertheless most of them do not have good attitude in malaria prevention and control (97.6%). There was 82.3% of respondents have being outdoor during the night time, beside there was 39.5% respondents stayed overnight outdoor. These KAP situation of the community in malaria endemic area will increase the malaria transmission risk. However, to improve the knowledge, attitude, and practices for prevention and control of malaria, the program of health promotion should be improved and keep sustainiing.
BIONOMIK VEKTOR MALARIA NYAMUK Anopheles sundaicus dan Anopheles letifer DI KECAMATAN BELAKANG PADANG , BATAM, KEPULAUAN RIAU
Shinta Shinta,Supratman Sukowati,Mardiana Mardiana
Bulletin of Health Research , 2012,
Abstract: Malaria continues to be a public health problem in the malaria endemic areas in Indonesia and often cause an outbreak. Batam municipality is the priority for development area in the Riau island Province, nevertheless malaria is still a public health problem. The national government and district office government have been committed to have a program for eliminating malaria at Batam area in year 2015. One of the malaria control program is the vector control measure. The failure of vector control is partly due to a lack of understanding of vector behavior in its epidemiological setting. The understanding of malaria vector species and its behavior will be useful to plan the vector control intervention. The study of bio-ecology of malaria vector is very important factor to understand its behavior and to formulate the vector control strtegy in Batam area. This study was carried out at Belakang Padang, Batam in 2008 using breeding habitat survey of Anopheles spp, measuring the pH, salinity and observation of breeding characteristics, mapping of breeding sites distribution using GPS and human landing collection inside as well as outside houses and ELISA for circumsporozoite. The results of the study revealed that, in the Belakang padang areas were found five natural breeding habitat of Anopheles spp. e.i: marshy areas, marshy with mangrove tree in the peripher, creek, mud-hole and water reservoir (water dam). Larvae of An. letifer and An sundaicus were found relatively higher number in the marshy areas, with characteristis of pH: 5-7,5, temperature 28-330C and salinity was 0-28 ‰. Only one species of anopheline An. sundaicus was found in the adult stage in Belakang Padang area, though An. letifer was found only in the larva stage. The biting activities of An. sundaicus throughout the night both indoors and outdoors, though the biting peak occured at 02.00-03.00 am. Both An sundaicus and An. letifer at Belakang Padang were susceptible to Bendiocarb 0,1% with mortality was 100%. The An. letifer also susceptible to deltamethrin 0.5% with the mortality 100%, therefore An. sundaicus showed a tolerant to deltamethrin 0.5% with mortality 93,3%. There was no positive from ELISA test. Key words: malaria, Bio-ecology, vector, Anopheles spp, breeding habitat , Abstrak Malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di beberapa daerah di Indonesia dan sering menimbulkan kejadian luar biasa. Batam sebagai prioritas utama pembangunan di Propinsi Kepulauan Riau, juga masih memiliki masalah malaria, namun Pemerintah Pusat dan Pemerintah Kota Batam t
THE OVARIAN POLYTENE CHROMOSOME OF THE MOSQUITO COMPLEX SPECIES Anopheles barbirostris VAN DER WULP
Supratman Sukowati,Herri Andris,Shinta Shinta
Bulletin of Health Research , 2012,
Abstract: Malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Salah satu upaya pemberantasan penyakit tersebut adalah dengan cara pengendalian vektornya. Sebagai dasar untuk menentukan strategi pengendalian vektor secara tepat guna adalah dengan pemahaman tentang spesies dan bioekologi serta habitatnya secara rinci. Untuk mengetahui adanya spesies sibling Anopheles barbirostris di Indonesia, telah dilakukan penelitian spesies sibling dengan teknik kromosom mitotik. Penelitian dilakukan di 5 daerah yaitu: (1) Ambarawa, Jawa Tengah, (2) Tara-Tara, Sulawesi Utara, (3) Boru-Boru, (4) Konga dan (5) Singaraja, tiga yang terakhir di Flores, Nusa Tenggara Timur. Analisis kromosom ovarium An. barbirostris Van der Wulp dilakukan dari ovarium nurse cell yang ditangkap dari 5 populasi alam yang berbeda daerah geografinya di Indonesia. Foto peta baku kromosom politen An. barbirostris telah dihasilkan dan didiskripsi dalam makalah. Spesimen-spesimen populasi tersebut menunjukan kariotipe kromosom mitotik yang serupa (2n=6) yang tersusun dari dua pasang autosom dan satu kromosom kelamin (X). Foto peta kromosom politen An. barbirostris yang berasal ovarian nurse cell telah dapat dihasilkan dan diidentifikasi sehingga dapat digunakan sebagai acuan untuk mempelajari adanya polimorfisme dan atau spesies komplek takson tersebut. Analisis pola penggelangan kromosom politen An. barbirostris dari 5 populasi alam dengan daerah geografi berbeda, tidak ditemukan perbedaan pola kromosom, semua sampel menunjukkan pola penggelangan yang homosekuensial. Foto peta kromosom politen baku An. barbirostris dapat digunakan sebagai acuan untuk mempelajari adanya spesies sibling takson tersebut.
Page 1 /325421
Display every page Item


Home
Copyright © 2008-2017 Open Access Library. All rights reserved.