oalib

Publish in OALib Journal

ISSN: 2333-9721

APC: Only $99

Submit

Search Results: 1 - 10 of 11 matches for " Soeroto Atmosoedjono "
All listed articles are free for downloading (OA Articles)
Page 1 /11
Display every page Item
THE USE OF SPECIES SANITATION AND INSECTICIDES FOR MALARIA CONTROL IN COASTAL AREAS OF JAVA
Soeroto Atmosoedjono,P. R. Arbani,Michael J. Bangs
Bulletin of Health Research , 2012,
Abstract: Aktivitas pengendalian penyakit malaria dimulai sejak awal abad ke-20. Beberapa peneliti malaria terkemuka memulai karimya di pulau Jawa, dan banyak pakar lain memperoleh keuntungan dari berbagai pengalaman dalam aktivitas pengendalian malaria di Indonesia. Salah satu peristiwa terpenting yang telah terjadi adalah suksesnya pengendalian di sebagian besar daerah di pulau Jawa, yang merupakan salah satu daerah terpadat penduduknya di dunia. Alasan-alasan yang sebenarnya dari keberhasilan dan kegagalan dalam pengendalian malaria di Jawa sering dikemukakan dalam literatur dan jarang mendapat perhatian sepenuhnya. Informasi yang disajikan di sini mengulas tentang faktor-faktor penting ekologi malaria di sepanjang pantai pulau Jawa, dan terutama menyangkut usaha-usaha pengendalian terhadap vektor utama, yaitu nyamuk Anopheles sundaicus. Penggunaan insektisida secara tepat dan bijaksana, perbaikan lingkungan untuk mengurangi habitat perkembangan larva, dan kebiasaan masyarakat yang menyangkut pengaturan/ pengolahan tanah dan tambak mempakan faktor-faktor penting untuk mencapai keberhasilan yang cukup tinggi. Usaha-usaha pemberantasan terhadap An. sundaicus dapat berhasil dengan adanya pemahaman biologi vektor dan ekologi pantai muara yang dipadukan dengan perubahan cara hidup dan pengendalian populasi dalam masyarakat. Meskipun pengendalian vektor sepanjang pantai utara pulau Jawa telah tercapai, akan tetapi ketidakmampuan untuk mengatasi kendala-kendala teknis dan lingkungan telah menghalangi keberhasilan usaha-usaha pengendalian An. sundaicus di sepanjang pantai selatan pulau Jawa.
INTESTINAL PARASITES AND MALARIA IN MUSI BANYU ASIN AND OGAN KOMERING ULU REGENCIES, SOUTH SUMATRA
W. Patrick Carney,Soeroto Atmosoedjono,Hadi Sajidiman,Arbain Joesoef
Bulletin of Health Research , 2012,
Abstract: Pada bulan Mei 1973 diadakan survey tinja dan darah di lima desa di Sumatra Selatan untuk mengetahui aspek-aspek penyakit parasit pada penduduk asli dan para transmigran yang datang antara tahun 1935 dan 1955. Desa-desa Tanjung Kerang, Simpang Langkap dan Biuku di Kabupaten Musi Banyu Asin yang terletak di sebelah barat laut kota Palembang merupakan daerah hutan-ladang-huma dan perkebunan karet rakyat dikelilingi oleh rawa-rawa, yang di diami oleh penduduk asli. Desa-desa Sidomulyo dan Tanjung Raya di Kabupaten Ogan Komering Ulu, terletak di sebelah tenggara' kota Palembang, adalah tempat transmigrasi yang merupakan daerah persawahan." Dari 358 orang yang diperiksa tinjanya yang terdiri dari 193 laki-laki dan 165 wanita, di keiemukan 97 per cent terinfeksi oleh sedikitnya satu macam parasit, 87 per cent oleh 2 macam parasit atau lebih dan 55 per cent oleh 3 macam parasit atau lebih. Telur-telur cacing yang di temukan antara lain ialah: Trichuris trichiura. (83 per cent), Ascaris lumbricoides (78 per cent) dan cacing tambang (59 per cent). Enterobius vermicularis (1 per cent) dan Strongyloides stercoralis (0,3 per cent) jarang di jumpai. Entamoeba coli (29 per cent) merupakan parasit protozoa yang biasa di temukan. Jumlah rata-rata protozoa yang ada dalam usus ialah: Entamoeba histofytica (4 per cent), Entamoeba hartmanni (1 per cent), Endolimax nona (5 per cent), Iodamoeba butschlii (5 per cent), Giardia lamblia (3 per cent) dan Chilomastbc mesnili (4 per cent). Distribusi dari parasit usus hampir sama di antara golongan laki-laki dan wanita; meskipun tanah memegang peranan yang sama dalam pemindahan cacing-cacing, tetapi A. lumbricoides dan T. trichiura lebih banyak di jumpai pada wanita, sedangkan cacing tambang lebih banyak pada laki-laki. Prevalensi parasit usus menurut golongan umur adalah sebagai berikut: A. lumbricoides lebih banyak pada golongan muda, T. trichiura merata pada semua golongan umur, tetapi yang terbanyak pada golongan umur antara 30-39 tahun. Infeksi cacing tambang terdapat tinggi, antara 50 sampai 60 per cent, sampai umur 50 tahun. Pada orang-orang yang berumur lebih dari 50 tahun, infeksi cacing tambang ini sangat menyolok meningkatnya sampai 92 per cent. Adanya perbedaan infeksi dari protozoa usus menurut golongan umur tidak dapat di buktikan. Pemeriksaan 472 sediaan darah yang berasal dari 5 desa tersebut diatas menemukan Plasmodium vivax dan Plasmodium falciparum pada 8 orang. Lima di antaranya adalah anak-anak yang berumur di bawah 10 tahun. Infeksi pada golongan laki-laki dan wanita tampak sama rata
INTESTINAL PARASITES AND MALARIA IN SUKOMENANTI PASAMAN REGENCY, WEST SUMATRA
W. Patrick Carney,Soeroto Atmosoedjono,Hadi Sajidiman,Arbain Joesoef
Bulletin of Health Research , 2012,
Abstract: Survey parasit darah dan usus telah diselenggarakan di Kecamatan Sukomenanti, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Bahan pemeriksaan berasal dari 168 penduduk lakidaki dan 196 wanita umur antara 2-87 tahun. Di Sumatra Barat cacing yang umumnya terdapat ialah pertama Ascaris lumbricoides, kedua cacing tambang dan ketiga Trichuris trichiura. Survey didaerah Boyolali dan Kresek, Jawa, menemukan lebih banyak T. trichiura daripada cacing tambang. Di daerah Yogyakarta T. trichiura menduduki tempat yang pertama. Angka infeksi yang rendah untuk desa Pasir Tampang (11 percent) dan Tongar (3 percent) adalah tidak umum untuk Indonesia, tetapi keadaan demikian juga dilaporkan di lembah Lindu dan Napu, Sulawesi Tengah. Enterobius vermicularis terdapat hanya pada 2 per cent diantara penduduk yang diperiksa, sesuai dengan keadaan di daerah2 lain di Indonesia. Species dari cacing tambang pada survey ini belum dapat ditentukan. Infeksi Ascaris lumbricoides terdapat lebih banyak pada penduduk golongan muda, sesuai dengan hasil autopsi oleh Liedan Tan di Jakarta. Di Jawa Tengah dan Jawa Barat infeksi A. lumbricoides tampak merata pada semua umur. Entamoeba coli selalu terdapat pada survey di desa2 di pulau Jawa. Tetapi, infeksi E. histolytica (24 percent) adalah berlainan dengan keadaan di Kresek, Boyolali dan Yogyakarta yang menunjukkan ■ infeksi 12 per cent atau kurang. Infeksi malaria di Sukomenanti adalah sangat rendah sebagaimana terdapat di Kresek dan Yogya-karta. Keadaan demikian sangat berlainan dengan daerah Margolimbo di Sulawesi Selatan dimana angka dnfeksi malarianya tinggi.
TRANSMISI LOKAL MALARIA DI KODYA MANADO
Harijani A. Marwoto,T. L. Richie,Soeroto Atmosoedjono,Sekar Tuti
Bulletin of Health Research , 2012,
Abstract: A study had been done in the city of Manado to identify the possibility of existance of local malaria transmission in 1993-1994. This study had been carried out in collaboration between The Communicable Disease Research Centre, NIHRD with Faculty of Medicine UNSRAT, NAMRU-2 and Local Health Services. The results showed that local transmission occured in Meras/Tuminting village, a coastal area and Tingkulu/Teling Atas village, an inland area of Manado. Sporozoit identification by ELISA testing showed that the malaria vectors for the coastal area were An. subpictus and An. barbirostris. Their breeding sites were abandoned fish ponds. While for the inland area. An. parangensis was found positive. This is the first report on An. parangensis as vector for malaria. Further studies- on this species should be done such as vector potency and vector bionomics.
PENENTUAN VEKTOR MALARIA DI FLORES
Harijani A. Marwoto,Soeroto Atmosoedjono,Rita M. Dewi
Bulletin of Health Research , 2012,
Abstract: A field study on entomology has been conducted in 6 villages which were located in coastal and in-land areas of Sikka Regency of Central Flores since April 1990 - October 1991. The results of this study showed that the suspected malaria vectors in those areas were An. sundaicus, An. subpictus, An. barbirostris, An. aconitus and An. maculatus. Only 3 species were confirmed as vector using ELISA test, i.e. An. sundaicus, An. barbirostris and An. subpictus with sporosoite rates of 4.2%, 2.1% and 0.1% respectively. An. aconitus, a potential malaria vector in Java and in some onther places was not confirmed as vector in Flores yet. The 3 confirmed vectors were also found positive with sporozoites in West Flores and also found predominant in East Flores.
ECOLOGY AND INFECTION RATES OF NATURAL VECTORS OF FILARIASIS IN TANAH INTAN, SOUTH KALIMANTAN (BORNEO), INDONESIA
Soeroto Atmosoedjono,Purnomo Purnomo,Sutanti Ratiwayanto,Harijani A. Marwoto
Bulletin of Health Research , 2012,
Abstract: Data ekologi nyamuk vektor dan tingkat infeksi filaría secara alami dan secara buatan telah diperoleh dari perkebunan karet di Kalimantan Selatan, Indonesia. Berbagai macam cara penangkapan dalam kondisi ekologi yang berbeda telah dipakai dalam pengumpulan 51 jenis nyamuk (N = 95.735). Pembedahan nyamuk, infeksi buatan dan identifikasi larva filaría mengikuti prosedur dan kunci yang sudah baku. Infeksi filaría Brugia, Breinlia dan Cardiofílaria secara alami ditemukan pada nyamuk Coquillettidia crassipes. Dari penelitian ini dapat dijelaskan hasil infeksi buatan, kepadatan populasi nyamuk secara musiman dan perbandingan cara penangkapan nyamuk.
MOSQUITOES COLLECTED IN SOUTH AND EAST KALIMANTAN
P.F.D. Van Peenen,Soeroto Atmosoedjono,S. Eko Muljono,J. C. Lien
Bulletin of Health Research , 2012,
Abstract: Pengumpulan nyamuk dalam waktu singkat di sembilan tempat di Kalimantan Timur dan Selatan menghasilkan 57 species dari 11 genera. Species yang terbanyak dikumpulkan ialah dari genus Culex 27 percent Mansonia 16 percent. Anopheles 16 percent, Aedes 12 percent, Armigeres 7 percent, Mimomia 7 percent, Uranotaenia 7 percent, Hodgesia. Tripteroides, Heizmania dan Culiseta masing-masing 2 percent.
Nogmaals Kartini’s “moeder”
Sitisoemandari Soeroto
Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde , 1976,
Abstract:
A REVIEW OF ANOPHELINE MOSQUITOES AND MALARIA CONTROL STRATEGIES IN IRIAN JAYA, INDONESIA
Cole J. Church,S. Atmosoedjono,Michael J. Bangs
Bulletin of Health Research , 2012,
Abstract: Bionomik dan peran sebagai vektor keduapuluh dua spesies nyamuk yang ditemukan di Irian Jaya, sudah diulas. Kelompok punctulatus yang semula dilaporkan hanya terdiri dari 5 spesies, saat ini diperkirakan paling sedikit terdiri dari 11 spesies. Kelompok spesies ini adalah vektor malaria yang paling dominan di wilayah Australoasia, meskipun spesies-spesies lain yang ditemukan juga cukup penting. Kunci elektroforesis untuk kelompok punctulatus sudah ada acuannya. Ulasan singkat dan diskusi mengenai strategi pengendalian malaria sudah dilakukan. Program ini umumnya memiliki ciri khas tertentu. Ini ditemukan di negara-negara yang pertumbuhan sosial ekonomi, perangkat pelayanan kesehatan dan tingkat pendidikannya sedang berkembang dan program-program ini difokuskan pada peran serta masyarakat dan strategi pengendalian jentik secara berkesinambungan. Dalam jangka panjang, strategi yang bisa menunjang penurunan populasi vektor di Irian Jaya didiskusikan dengan titik berat pada peran serta masyarakat dan pendidikan, koordinasi pengendalian malaria dengan pengaturan pertanian, meningkatkan ketergantungan pada pengendalian jentik secara berkesinambungan dan melibatkan aparat kesehatan setempat sebagai bagian tak terpisahkan dari program pengendalian malaria di pedesaan. Diharapkan ulasan ini akan memberikan nilai tambah kepustakaan bagi para entomologiwan yang bekerja di daerah.
GAMBARAN IgG4 dan IgE TERHADAP PROTEIN MIKROFILARIA PADA SERA PENDUDUK ENDEMIS FILARIASIS DI KECAMATAN PASIR PENYU, RIAU
Basundari SU,Liliana Kurniawan,Soeroto A.,Rita Marleta
Bulletin of Health Research , 2012,
Abstract: Western blot test to detect specific IgG4 and IgE was performed to 12 microfilaraemic and 13 amicrofilaraemic individuals from malayan filariasis endemic area, Pasir Penyu, Riau. No differences in binding patterns of IgG4 and IgE antibodies to microfUarial protein components was shown. There was a parallel protein components recognition by IgG4 and IgE of molecular weight ranging from 158 kd to 14 kd. Protein component of 125 kd was only recognized by IgG4 and of 112 kd only by IgE. These findings suggest that in filarial infection IgG4 antibodies play a role as a blocking antibodies to inhibit the spesific reaction of IgE that is usually expressed as an allergic reaction.
Page 1 /11
Display every page Item


Home
Copyright © 2008-2017 Open Access Library. All rights reserved.