oalib
Search Results: 1 - 10 of 100 matches for " "
All listed articles are free for downloading (OA Articles)
Page 1 /100
Display every page Item
Masalah Pelaksanaan Program Kesehatan di Daerah dan Informasi yang Dibutuhkan Dalam Upaya Penanggulangannya
Anorital Anorital,Ida Bagus Indra Gotama
Media of Health Research and Development , 2012,
Abstract: Secara umum hasil-hasil penelitian kesehatan belum sepenuhnya mendukung kebutuhan program baik di tingkat pusat maupun daerah. Untuk menanggulangi masalah tersebut, salah satu upaya adalah melibatkan para pelaksana program kesehatan (di daerah) dalam mengidentifikasi masalah pada program kesehatan yang dilaksanakan selama PJP I khususnya pada Repelita V dan informasi yang dibutuhkan dalam upaya pemecahan dan penanggulangannya. Untuk menjawab pernyataan tersebut, telah dilakukan suatu studi deskriptif guna mengetahui sampai seberapa banyak jumlah masalah yang terdapat pada program prioritas yang ada pada unit eselon I Depkes yang dilaksanakan di seluruh propinsi di Indonesia. Studi ini mencakup 27 propinsi, sebanyak 17 propinsi (63%) mengembalikan formulir isian dengan jumlah program prioritas sebanyak 43 program dari 6 unit eselon I Depkes, dan telah diidentifikasi sebanyak 320 item masalah serta 400 item informasi yang dibutuhkan agar dapat dilakukan upaya peningkatan program kesehatan pada masa awal PJP II. Hasil yang diperoleh dari studi ini menunjukkan bahwa lebih dari 56% masalah-masalah yang ada merupakan masalah yang terdapat pada teknis substantif, sedangkan jenis informasi yang dibutuhkan ternyata 37,7% adalah informasi yang dibutuhkan untuk peningkatan program.
MASALAH KESEHATAN DI INDONESIA BAGIAN TIMUR  [cached]
A. M. Meliala, SKM, DSP,Siswo Poerwanto, Msc, MPH
Media of Health Research and Development , 2012,
Abstract: Makalah ini akan mencoba menelaah ujud dan distribusi masalah kesehatan di beberapa propinsi di Indonesia, khususnya Irja, Maluku, Sulawesi, NTB, NTT dan Timtim. Dalam pembahasan disajikan faktor-faktor yang mempengaruhi situasi kesehatan di wilayah tersebut.
Penelitian Epidemiologi Malaria Di Daerah Kejadian Luar Biasa Di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara Tahap II  [cached]
M. Sudomo
Media of Health Research and Development , 2012,
Abstract: masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Penyeba-rannya meliputi seluruh wilayah Indonesia terutama di luar Jawa dan Bali. Di Sumatera Utara terdapat berbagai daerah yang secara historis merupakan daerah endemis malaria misalnya di Asahan, Sibolga dan Tapanuli Selatan. Tapanuli Selatan merupakan daerah rawan malaria dan menduduki tempat ketiga setelah Irian Jaya dan Kalimantan.
MASALAH KESEHATAN DAN KEBUTUHAN PENELITIAN DI PROPINSI-PROPINSI WILAYAH INDONESIA BAGIAN TIMUR  [cached]
Drs. Ida Bagus Indra Gotama, SKM,Anorital, SKM Anorital, SKM
Media of Health Research and Development , 2012,
Abstract: Proses pembangunan kesehatan IBT (Indonesia Bagian Timur) tidak secepat wilayah IBB (Indonesia Bagian Barat). Keterlambatan proses ini dikarenakan banyaknya faktor penghambat yang jika dirinci di setiap sektor yang terkait dengan aspek kesehatan punya kontribusi terhadap timbulnya keterlambatan tersebut di atas. Secara umum masing-masing propinsi di IBT punya masalah yang sama. Misalnya masalah sulitnya dan kurang tersedianya sarana transportasi, terbatasnya sumber daya manusia untuk mendayagunakan sumber alam yang melimpah, tidak meratanya penyebaran penduduk di setiap wilayah,dan faktor sosial budaya yang secara tidak langsung mempengaruhi jalannya proses pembangunan kesehatan.
MASALAH KURANG VITAMIN A (KVA) DAN PROSPEK PENANGGULANGANNYA  [cached]
Susilowati Herman
Media of Health Research and Development , 2012,
Abstract: Indonesia pernah tercatat karena keberhasilannya mengatasi masalah xerophtalmia sehingga tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat, meskipun masalah kurang vitamin A tingkat sub klinis (serum vitamin A < 20 μg/dl) pada anak Balita masih 50%. Sejak krisis ekonomi tahun 1997, diperkirakan masalah KVA meningkat lagi, ditandai dengan diketemukannya kasus-kasus xerophtalmia di beberapa daerah dan bahkan xerophtalmia pada wanita usia subur (WUS). Apakah pada era otonomi dan desentralisasi, masalah KVA akan semakin cepat dapat diatasi sesuai dengan kemampuan daerah? Makalah ini mengkaji masalah KVA dan prospek penanggulangannya. Kata kunci: kurang vitamin A, penanggulangan, xerophtalmia
MALARIA DI PURWOREJO
Harijani A. Marwoto,Sekar Tuti E. Sulaksono
Media of Health Research and Development , 2012,
Abstract: Dalam 5 tahun terakhir banyak laporan tentang adanya peningkatan angka penyakit yang dapat menimbulkan wabah di Jawa Tengah, terutama malaria. Angka malaria/API (Annual Parasite Incidence) meningkat > 16 kali lipat, di mana 65% diantaranya berasal dari Purworejo. Masalah malaria tinggi meliputi 11 kecamatan, dengan jumlah desa HCI (High Case Incidence) mencapai 171 buah. Masalah malaria tersebut meluas ke daerah pegunungan Menoreh (Magelang, Wonosobo), Kebumen dan Banyumas. Bahkan sejak tahun 1999 mulai masuk wilayah Kota Purworejo. Sejak tahun 1999 telah dilakukan penelitian kerjasama antara Badan Penelitian dan Pengem-bangan Kesehatan (BPPK) - Naval Medical Reseach Unit 2 (Namru 2) - Dinas Kesehatan Ka-bupaten (DKK) Purworejo dalam berbagai aspek untuk penanggulangan malaria setempat.
PENELITIAN KESEHATAN BIDANG PELAYANAN KESEHATAN DASAR DI INDONESIA BAGIAN TIMUR  [cached]
Dr. Agus Suwandono, MPH, DR. PH.
Media of Health Research and Development , 2012,
Abstract: Makalah ini membahas mengenai keadaan, masalah dan potensi yang mempengaruhi pembangunan pelayanan kesehatan dasar di Indonesia Bagian Timur.
PENGETAHUAN/PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG SHIGELLA DAN UPAYA PENCEGAHANNYA DI DAERAH JAKARTA UTARA (DKI JAKARTA)  [cached]
Yulfira Media,Siti Sapardiyah Santoso
Media of Health Research and Development , 2012,
Abstract: Penyakit shigella masih menjadi salah satu masalah kesehatan di Indonesia. Hasil survei Demografi dan kesehatan Indonesia tahun 1997 menunjukkan bahwa prevalensi diare di Indonesia adalah 10,4%. Sedangkan untuk DKI Jakarta prevalensi diare adalah 8,3% dan disertai daerah 0,52%, dan wilayah Jakarta Utara masih menjadi pertimbangan sebagai tempat wabah penyakit yang berisiko tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuanlpersepsi masyarakat tentang shigella dan bagaimana upaya yang dilakukan masyarakat dalam upaya pencegahan penyakit shigella. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam kepada sejumlah 170 informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat pada umumnya tidak tahu membedakan antara penyakit shigella dan berak darah. Masyarakat menganggap penyebab dari penyakit shigella adalah karena faktor makanan dan minuman yang kotor dan kurang bersih, di samping karena lingkungan yang kurang bersih. Upaya pencegahan penyakit shigella antara lain dikaitkan dengan kebersihan rumah dan lingkungan, kebersihan perorangan, makanan, dan penyuluhan.
PENENTUAN DAERAH RAWAN GIZI BERDASARKAN ANALISIS SPATIAL  [cached]
Noviati Fuada,Sri Muljati,Tjetjep S Hidayat
Media of Health Research and Development , 2012,
Abstract: Latar Belakang : Riset Kesehatan Dasar telah dilakukan di Indonesia (RISKESDAS 2007). Riset telah mengumpulkan data-data yang terdiri dari data kesehatan yang menggambarkan status gizi anak di bawah lima (antrophometri data) di seluruh wilayah Indonesia. Kenyataanya masih sedikit analisis dengan menggunakan metode GIS, oleh karena itu artikel ini akan dikaji dengan metode spasial. Kajian ini diharapkan dapat memberikan informasi faktual, yang dapat mendukung kebijakan daerah. Tujuan: Mengidentifikasi daerah kabupaten/provinsi rawan status gizi anak balita, Metode: Analisa GIS denganmenggunakan metode spasial (pengelompokan data dan overlay dengan cara union). Data RISKESDAS 2007. Hasil: Wilayah tingkat tinggi potensi rawan gizi bermasalah (bersumber overlay antara peta sebaran status gizi balita dengan peta sebaran KK miskin) adalah; Kota Tasikmalaya, Kab. Tasikmalaya, Cianjur, Garut, Ciamis, Bandung, Subang dan Majalengka. Wilayah tingkat tinggi berpotensi terkena infeksi penyakit (berdasarkan peta sebaran resiko Infeksi Penyakit dan pemanfaatan posyandu) adalah: Kabupaten Purwakarta, Karawang, Bekasi, Bogor, Sukabumi, Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Bekasi dan Bogor. Wilayah berpotensi rawan gizi kategori tinggi (bersumber pada 4 faktor/peta sebaran) meliputi, Kabupaten Cianjur, Garut, Tasikmalaya dan Kota Tasikmalaya. Kasus Gizi bermasalah berdasarkan 3 indeks gabungan menyebar di seluruh wilayah Provinsi Jawa Barat. Wilayah kasus gizi bermasalah kategori tinggi, dan kategori sedang, sebagian besar terjadi di wilayah Kabupaten. Baik kategori sedang maupun tinggi merupakan wilayah yang berdampingan. Gambaran ini mengarah pada fakta bahwa masalah gizi cenderung merupakan masalah epidemiologi. Kesimpulan: Terdapat empat wilayah kabupaten status gizi yang paling serius dalam kategori tinggi meliputi, Kabupaten Cianjur, Garut, Tasikmalaya dan Kota Tasikmalaya. Kata kunci: analisis spasial, status gizi, posyandu, rawan gizi
SITUASI FILARIASIS DI KABUPATEN SUMBA TENGAH PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2009
Ruben Wadu Willa
Media of Health Research and Development , 2012,
Abstract: Filariasis merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria dan masih menjadi masalah kesehatan di Indonesis khususnya di daerah yang masih tertinggal. Kabupaten Sumba Tengah Propinsi Nusa Tenggara Timur merupakan daerah dengan kasus klinis cukup tinggi. Tahun 2007 jumlah kasus klinis filariasis di kabupaten Sumba Tengah sebanyak 360 kasus. Tujuan survei ini adalah untuk mendapatkan gambaran nyamuk yang menjadi tersangka vektor filaria, jenis cacing filaria penyebab filariasis serta jumlah microfilaria rate. Penelitian ini merupakan penelitian suvei dengan desain potong lintang. Pada survei ini dilakukan penangkapan nyamuk dan pengambilan darah jari. Hasil penangkapan adalah nyamuk dengan genus Anopheles sp, Culex sp, Mansonia sp, Aedes sp, dan Armigeres sp. Nyamuk yang diduga sebagai vektor filariasis adalah An. barbirostri, An. aconitus, An. vagus dan An.anularis. Brugiya Timori merupakan cacing penyebab filariasis dengan microfilaria rate (Mf Rate) sebesar 3,44%. Kabupaten Sumba Tengah merupakan daerah endemis filariasis oleh sebab itu perlu dilakukan pengobatan massal filariasis. Kata Kunci : Situsi Filariasis, Sumba Tengah.
Page 1 /100
Display every page Item


Home
Copyright © 2008-2017 Open Access Library. All rights reserved.